
Sejak awal, Ahok selalu mengaku jadi korban SARA akibat ada pihak yang menolak dirinya dengan alasan agama. Namun, sejatinya sejak awal pula Ahok-lah yang menarik-narik isu berbau agama. Sejak awal menjabat gubernur, Ahok sudah berinvestasi menyinggung isu agama yang berbuah sentimen kelompok tertentu.
Bara yang dipantik Ahok sudah bermula sejak pernyataannya yang menilai pihak yang menolak lokalisasi prostitusi di Jakarta sebagai pihak yang munafik. Padahal, motor dari penolakan itu adalah salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah.
"Jangan munafik, emang nggak ada prostitusi di DKI? Ngapain munafik? Itu aku nyindir aja," ucap Ahok, 31 Desember 2014. Begitu Ahok yang menegaskan kata 'munafik' hingga dua kali kepada pihak yang gencar menolak lokalisasi.
Tak hanya itu, Ahok pun sempat menyebut jika nabi diturunkan di Jakarta sekalipun tak akan mampu menangani prostitusi. "Bagi saya bukan mempermasalahkan menghilangkan prostitusi di Jakarta. Enggak mungkin. Nabi turun saja enggak bisa menghilangkan loh," kata Ahok di Balai Kota, 27 April 2015.
Belum lagi pernyataan Ahok soal bagaimana penyelenggara event zikir yang dituding membuat lingkungan Monas menjadi kotor akibat kerap memanfaatkan momen ibadah itu untuk menyewakan lapak bagi PKL. "Saya juga minjamin (Monas) dulu buat zikir, tapi malah orang-orang masuk buat PKL. Enggak bisa dong. Itu EO-nya dapat duit nyewain lapak, saya setengah mati 6-7 bulan beresin!" kata Ahok 19 Oktober 2015.
Memang, ucapan Ahok itu tak sepenuhnya bisa disalahkan. Namun untuk sekelas pemimpin, perkataan yang gegabah malah bisa menimbulkan bibit masalah. Ini terbukti pada ucapan-ucapan Ahok berikutnya.
Ahok pernah menyinggung soal penggunaan jilbab di sekolah. Bahkan seperti dikutip dari Kompas.com edisi 4 Juni 2016, Ahok mengatakan lebih baik serbet di rumahnya dibanding jilbab berukuran besar.
"(Jilbab) yang dipakainya yang kayak serbet. Malah mungkin lebih bagus serbet di dapur saya. Begitu keluar dari sekolah naik motor bapaknya, langsung dibuka," kata Ahok.
Masih banyak lagi perkataan Ahok yang menyinggung isu agama, seperti isu pemotongan hewan kurban.
Namun puncak dari semua itu adalah ucapan Ahok yang menyinggung surah al-Maidah Ayat 51. Rentetan tindakan Ahok ini ibarat menyulut api kemarahan sebagian besar kelompok Islam.
Sejatinya, rentetan dugaan penistaan agama ini menjadi sebuah rangkaian yang berbeda dengan Pemilukada. Perkataan Ahok pun dinilai tak hanya menjadi isu warga DKI, melainkan isu seluruh Indonesia.
Tak pelak, hal ini membawa implikasi gugatan hukum di seluruh wilayah hukum. Memang tak dipungkiri, mereka yang marah ini secara politis umumnya bukan pemilih Ahok dalam Pemilukada DKI. Namun aksi menolak Ahok kini sudah jauh melenceng dari sekadar persoalan kontestasi politik.
Sebab, warga di Nangroe Aceh Darussalam saja sudah ikut bergerak. Mereka menuntut Jakarta segera menyelesaikan proses hukum terhadap sang gubernur. Jika tidak, mereka menuntut Ahok diadili secara hukum Aceh. Sebab Ahok dinilai telah mencederai syariat Islam yang menjadi hukum di daerah itu.
Tulisan dikutip dari 'Manuver Ahok, Bara Konflik Sara, dan Ancaman Negara Gagal'